Nama : Rifqi Amalul Arifin
Kelas : 1PA01
NPM : 16516393
Keadilan
Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut
benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan
yang besar, John Rawls filsuf
Amerika Serikat yang dianggap
salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan
adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana
halnya kebenaran pada sistem pemikiran". Tapi, menurut kebanyakan teori
juga, keadilan belum lagi tercapai: "Kita tidak hidup di dunia yang
adil". Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan
dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang
menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan
memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan
realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas.
keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.
Keadilan di Indonesia
Menurut saya keadilan
yang ada di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan, itu dikarenakan masih
jauhnya bangsa ini dari kata adil. Ketidak adilan sering terjadi terutama
terhadap masyrakat kecil, apalagi kalau sudah berbicara soal penegakkan hukum. Contoh
yang sangat terlihat adalah banyaknya kasus korupsi, banyak kasus korupsi yang dalam pengusutannya
tidak mampu menguak fakta apalagi menangkap dalang intelektualnya. Malahan
banyak oknum penegak hukum yang terlibat dalam kasus korupsi tersebut, sehingga
tidak dapat ditangkap dan diadili sesuai hukum. Makanya banyak dalang korupsi
yang hanya diberikan hukuman-hukuman ringan.
Lain halnya jika
rakyat kecil terjebak di pengadilan, sebagai contoh seorang nenek yang ketahuan
mencuri tiga buah kakao di daerah perkebunan yang akan dijadikan bibit dan
sekarang nasibnya terancam hukuman percobaan 1 bulan 15 hari. Memang yang
namanya pencurian tetap suatu kesalahan seberapapun besar kecilnya bila
dipandang perlu ditindak lanjuti silahkan saja. Hanya
saja yang jadi tak berimbang di sini adalah, seorang nenek nenek yang hanya
mencuri 3 biji kakao harus berhadapan dengan meja hijau tanpa di dampingi
pengacara karena tidak adanya kemampuan finansial untuk membayar jasa
pengacara. Sementara koruptor a.k.a maling uang rakyat yang bermilyar milyar
bahkan trilyunan bebas berkeliaran tanpa penyelesaian yang jelas.
Cita-cita
Cita-cita saya saat
ini adalah menjadi seorang tentara. Menurut saya menjadi seorang tentara
merupakan cita-cita yang sangat mulia, karena tugas mereka adalah mengabdi
terhadap tanah air, memberikan semua yang mereka miliki untuk bangsa dan
Negara. Namun, untuk menjadi seorang tentara tidaklah mudah. Dibutuhkan usaha,
kerja keras, dan do’a untuk mencapainya. Selain membutuhkan fisik dan mental
yang kuat, juga diperlukan otak yang cerdas.
Pada saat SMA saya
belum kepikiran untuk bercita-cita menjadi seorang tentara, sehingga pada saat
pemilihan jurusan saya lebih memilih jurusan IPS. Karena dulu saya sangat ingin
menjadi seorang pengusaha sukses. Namun setelah lulus SMA saya memikirkan
tentang masa depan saya agar menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa,
barulah saya kepikiran untuk menjadi seorang perwira tentara.
Namun, yang menjadi
masalah adalah hanya jurusan IPA yang bsa menjadi seorang perwira TNI. Karena
saya terlanjur memilih jurusan IPS pada saat SMA akhirnya saya mencari jalan
keluar dengan kuliah terlebih dahulu agar mendapatkan gelar Sarjana Psikologi
supaya saya bisa menjadi seorang perwira TNI yang biasa disebut perwira karier.
Oleh karena itu usaha yang saya lakukan saat ini adalah giat belajar agar
mendapat gelar sarjana sehingga saya bisa menjadi seorang perwira TNI.
Dan usaha yang akan
saya lakukan kedepannya adalah, latihan fisik. Karena kesibukan kuliah akan
sulit untuk membagi waktu agar dapat melakukan latihan fisik. Oleh karena itu
saya akan melatih fisik saya kapanpun ada waktu luang, dan memanfaatkan waktu
sebaik mungkin serta melakukan latihan seefektif mungkin.
Pegangan Hidup
Pegangan hidup yang
saya pegang teguh adalah takut akan dosa terhadap Allah SWT. Apabila kita takut
akan berbuat dosa, maka kita tidak akan mungkin berbuat keburukan. Dan apabila
kita terus beribadah kepadanya maka akan tercipta pikiran yang bersih. Dengan
beribadah hidup kita menjadi lebih tenang, beban-beban hidup menjadi berkurang.
Sehingga mendapatkan tujuan hidup.
Apabila seorang
manusia tidak memiliki rasa takut, tidak memiliki agama, tidak pernah
beribadah, maka manusia tersebut tidak akan menjadi manusia yang baik. Dalam
artian bahwa mereka melakukan hal sesuka mereka, tidak ada batasan-batasan akan
perilaku mereka, dan yang lebih buruk lagi apabila mereka tidak memiliki moral.
Sehingga menyebabkan banyaknya manusia yang memiliki perbuatan-perbuatan keji,
banyaknya tingkat kejahatan di dunia.





